Menyepelekan Kata Ringan Hingga Lupa Waspada
Saat mendengar kata ringan, aku seperti terhipnotis. Seakan semuanya akan baik-baik saja, seakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal justru di situlah kewaspadaanku perlahan mengendur.
Kisahku Guruku
Saat mendengar kata ringan, aku seperti terhipnotis. Seakan semuanya akan baik-baik saja, seakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal justru di situlah kewaspadaanku perlahan mengendur.
Di tengah banyaknya penyesuaian setelah masa pandemi, keluargaku memilih untuk tetap menggunakan masker dalam aktivitas tertentu.
Aku waktu kecil nggak pernah tahu punya bakat apa. Pernah suatu hari lihat acara di televisi tentang bikin cake. Kelihatannya seru dan mudah. Aku sampai minta mama beliin bahan-bahannya. Setelah semua ada, aku coba bikin sendiri.
Aku sadar, aku sempat salah langkah saat memutuskan memelihara kucing pertama kali. Waktu awal pandemi, lebih sering di rumah dan scroll media sosial, kucing lucu-lucu bikin gemas. Tapi pengalaman ini mengajarkanku banyak hal tentang tanggung jawab dan biaya memelihara hewan peliharaan.
Kata orang, energi negatif yang terpancar dari seseorang bisa berpengaruh buruk ke sekitarnya. Bahkan ada yang percaya, pengaruh itu bisa muncul dalam bentuk sakit-sakitan. Termasuk ketika orang tua sering marah-marah, anak yang disebut-sebut jadi korbannya. Fakta atau mitos?
Anakku mulai memasuki usia remaja. Si sulung, sebentar lagi 17 tahun. Belakangan, obrolannya nggak jauh-jauh dari pacaran. Sebagai ibu, jujur aku belum siap. Aku termasuk ibu kolot. Aku minta supaya jangan pacaran dulu. Bukan karena ingin mengekang, tapi karena aku ngeri melihat pergaulan zaman sekarang.
Liburan semester telah usai, tapi berita super flu ramai. Simak tips agar anak tetap aman di sekolah, memakai masker dengan benar, dan orang tua tetap waspada tanpa berlebihan.
Banyak orang sekarang lebih nyaman menulis di media sosial. Serba cepat, singkat, dan langsung lewat di layar. Sementara aku masih betah di blog. Aku belum siap dengan pergerakan yang terlalu cepat. Aku lebih suka yang pelan. Apa itu salah?
Aku menemukan sebuah akun yang memposting cuplikan podcast. Seorang artis cantik menceritakan fase retak dalam hidupnya, ketika kesedihannya seolah tak diakui hanya karena ia punya uang. Ada image yang sering melekat di masyarakat, kalau seseorang punya uang, maka kesedihannya dianggap bisa ditutupi. Berbeda dengan mereka yang tak punya uang, kalau sedih, ya sudah, mati gaya.
Sunat pada anak bungsuku nggak jauh berbeda dengan kakaknya. Kami nggak mengadakan pesta sunat seperti orang pada umumnya. Entah itu dianggap wajib atau tidak, bagiku tidak merayakan bukan berarti kami, orang tuanya, tidak sayang atau tidak menghargai proses yang dijalani anak.